JASEFI JASEFI JASEFI!!!
Ayo!!!
hadirilah “JASEFI” (Jalan Sehat Fisika)
dengan kegiatan jalan sehat bareng, lomba tradisional tiap angkatan, pembagian doorprize dan acara lain yang pasti seru .
kegiatan ini akan dilaksanakan pada hari minggu tanggal 20 November 2011.
biaya pendaftaran Rp 5.000
… pembayaran dan pendaftaran di stand pendaftaran JASEFI yang bertempat di depan mushola FPMIPA atau melalui bendahara kelas masing-masing.
pendaftaran paling lambat tanggal 18 November 2011.
kami tunggu partisipasinya,
terima kasih
make your life more healthy with physics
Para ilmuwan meningkatkan kekuatan baterai dengan lubang-lubang kecil
Batteries for phones and laptops could soon recharge ten times faster and hold a charge ten times larger than current technology allows.
Scientists at Northwestern University in the US have changed the materials in lithium-ion batteries to boost their abilities.
One change involves poking millions of minuscule holes in the battery.
Batteries built using the novel technique could be in the shops within five years, estimate the scientists.
A mobile phone battery built using the Northwestern techniques would charge from flat in 15 minutes and last a week before needing a recharge.
The density and movement of lithium ions are key to the process.
Dr Harold Kung and his team at Northwestern said they have found a way to cram more of the ions in and to speed up their movement by altering the materials used to manufacture a battery.
The maximum charge has been boosted by replacing sheets of silicon with tiny clusters of the substance to increase the amount of lithium ions a battery can hold on to.
The recharging speed has been accelerated using a chemical oxidation process which drills small holes – just 20-40 nanometers wide – in the atom-thick sheets of graphene that batteries are made of.
This helps lithium ions move and find a place to be stored much faster.
The downside is that the recharging and power gains fall off sharply after a battery has been charged about 150 times.
“Even after 150 charges, which would be one year or more of operation, the battery is still five times more effective than lithium-ion batteries on the market today,” said lead scientist Prof Harold Kung from the chemical and biological engineering department at Northwestern.
So far, the work done by the team has concentrated on making improvements to anodes – where the current flows into the batteries when they are providing power.
The group now plans to study the cathode – where the current flows out – to make further improvements.
A paper detailing the work of Prof Kung and his co-workers has been published in the journal Advanced Energy Materials.
Sumber : BBC News
Metallic hydrogen makes its debut, maybe
Hydrogen gas squeezed at tremendous pressures has transformed into a metal in the laboratory. So say a pair of scientists in Germany, whose bold claim is being met with skepticism.
Many scientists have tried to make metallic hydrogen since its existence was first predicted in 1935. The exotic substance is thought to form at high pressures, such as those in Jupiter’s core. It may be a superconductor at room temperature, useful for making wires that carry electricity with little loss of current. And NASA hopes to one day put it to work as a rocket fuel that would be more powerful than anything around today.
“Making metallic hydrogen is often considered the Holy Grail for high-pressure physics,” says Mikhail Eremets, a physicist at the Max Planck Institute for Chemistry in Mainz, Germany, who with Ivan Troyan reported the results online November 13 in Nature Materials.
To see if hydrogen could be made to conduct electricity, Eremets and Troyan squeezed a room temperature sample of the gas between two diamonds. At record-breaking pressures more than 2.3 million times that of Earth’s atmosphere, the hydrogen became opaque and reflective. Its resistance to the flow of current dropped to one ten-thousandth that of hydrogen at lower pressures.
That’s evidence that the gas changed into something else, say the researchers. To show that this new substance was a metal, they cooled it from room temperature to 30 kelvins. The resistance rose slightly, but the material remained conductive.
“[The finding] has stimulated a lot of activity and is going to have a big impact on attempts to produce metallic hydrogen,” says Isaac Silvera, a physicist at Harvard University who has been trying to make the stuff for more than 30 years.
But while Silvera agrees that the gas changed under pressure, he and other physicists aren’t convinced that the hydrogen changed into the long-sought metal.
“People have thought they created metallic hydrogen before, and they turned out to be wrong,” says William Nellis, a physicist now at Harvard. In 1996 he and colleagues at Lawrence Livermore National Laboratory in California used shock waves to make hydrogen that conducted electricity (SN: 4/20/96, p. 16) but survived only for a fraction of a second, not long enough to definitively prove that it was a metal.
Nellis worries that interactions between hydrogen and the equipment used in the new experiment — the metal electrodes inserted into the hydrogen or the epoxy in the gasket holding it in place — may have muddied the German group’s measurements. Hydrogen is extremely reactive at high pressures.
Arthur Ruoff, a physicist at Cornell University, says the increase in resistance when the hydrogen was cooled doesn’t make sense. In a typical metal, resistance would decrease. For exotic types of conductors, it can increase — but that increase should have been more dramatic than the 20 percent rise measured by Eremets and Troyan, says Ruoff.
To satisfy his critics, Eremets plans to refine this tricky experiment. But he’s not surprised that the result has proven controversial.
“Hydrogen attracts so much attention in our field,” says Eremets. “Of course there will be a lot of emotion, of course there will be a lot of demands.”
Fenomena Gravitasi yang Menakjubkan!
Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap, dan sesungguhnya jika keduanya akan lenyap maka tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah”. (QS.Faathir, 35:41)
Mengapa kita tetap berpijak di atas permukaan bumi? Mengapa setiap benda yang jatuh selalu menuju pusat bumi? Mengapa bulan tetap mengelilingi bumi dan bumi bersama-sama bulan mengelilingi matahari? Mengapa demikian?
Disadari atau tidak, seringkali kita tidak memahami pengalaman kita hidup di dunia ini. Tentang ‘sesuatu’ yang menyebabkan kita tetap lekat di permukaan bumi. Apakah sesuatu itu? Mengapa sesuatu itu ada? Bagaimana cara ia bekerja?
Suatu pertanyaan sederhana seringkali memerlukan pemikiran yang mendalam untuk memperoleh jawabannya. Dan mungkin, sedikit sekali yang berupaya sungguh-sungguh, karena hal itu tampaknya sesuatu yang “biasa” dalam kehidupan sehari-hari. Kecuali anak-anak yang polos dan lugu serta ingin tahu yang seringkali mengusik kita dengan pertanyaan-pertanyaan mereka yang spontan tentang segala sesuatu yang mereka lihat dan rasakan. Yang terkadang terkesan lucu namun menyenangkan. Diantaranya mengapa benda jatuh selalu ke “bawah”?
Penjelasan yang kita terima seperti mereka juga belumlah tuntas, bahkan mungkin hingga saat ini. Sebenarnya, setiap orang tentu mengalami pengaruh gravitasi. Demikian juga dengan semua benda yang ada di sekitar kita. Walau tanpa kita sadari, semua benda yang terdiri dari partikel materi saling berinteraksi tarik-menarik satu sama lain. Gravitasilah yang memungkinkan kita tetap nyaman tinggal di permukaan bumi dan kita dapat menikmati indahnya cahaya bulan purnama di malam hari, juga kemilaunya sinar matahari di waktu senja dan pagi hari. Tanpa gravitasi, kita semua akan beterbangan “hilang” dalam ruang makrokosmos yang teramat luas akibat rotasi bumi. Tanpa gravitasi, bumi yang kita huni, bulan dan matahari serta planet-planet yang mengisi ruangan jagat raya ini akan berhamburan dalam gerak acak yang tak beraturan. Bersyukurlah kita, bahwasannya Allah telah menciptakan gravitasi sehingga kita pun mengalami proses kehidupan yang harmonis dengan lingkungan alam kita.
Namun, apakah “gravitasi” itu? Sejauh ini telah banyak usaha yang dilakukan untuk memahami fenomena gravitasi. Sejarah mengatakan, mula pertama gagasan gravitasi dipahami dan dijelaskan oleh tuan Isaac Newton dalam Philosophiae Naturalis Principia Mathematica yang sering juga disebut Principia yang muncul pertama kali tahun 1687 (walaupun sebenarnya gagasan gravitasi tersebut telah diperolehnya 22 tahun sebelumnya) yang antara lain menjelaskan hukum gravitasi universal di samping mengemukakan teori bagaimana benda bergerak dalam ruang dan waktu. Hukum gravitasi universal menjelaskan bagaimana benda berinteraksi tarik-menarik. Gagasan hukum gravitasi universal dapat kita pahami sebagai berikut,”tiap benda dalam jagat raya ditarik ke arah semua benda lain oleh suatu gaya yang makin kuat dengan makin besarnya massa benda-benda itu, dan dengan dekatnya benda itu satu sama lain”. Artinya, setiap partikel materi yang berada di dalam jagat raya ini saling tarik-menarik satu sama lain yang besarnya gaya tarik-menarik tersebut bertambah besar bila jaraknya semakin dekat dan kandungan massa dari tiap-tiap partikel materi tersebut bertambah banyak.
Meskipun pengalaman kita hidup sehari-hari tidak merasakan hal demikian, hal ini dikarenakan oleh adanya kenyataan bahwa gaya gravitasi itu teramat lemah, sehingga pengaruh yang ditimbulkannya amat kecil untuk dapat kita rasakan.
Seiring dengan usaha pemahaman atas gaya interaktif lain yang ada di jagat raya ini, konsep medan telah diperkenalkan oleh ilmuwan fisika masyhur, Michael Faraday pada akhir abad 19 yang berusaha memahami gaya interaktif partikel bermuatan elektrik yang kita kenal sekarang sebagai gaya elektromagnetik (gagasan “partikel” untuk dunia mikroskopis adalah suatu model saja). Konsep medan ini kemudian dibuat umum hingga kemudian diterapkan juga pada gagasan gravitasi tuan Newton, yang dikenal dengan konsep medan gravitasi.
Konsep medan gravitasi ini memandang setiap partikel materi sebagai pengubah ruang medan gravitasi. Medan ini beraksi pada setiap partikel materi lain yang berada di dalam medan tersebut, yang seolah-olah “mengerahkan” gaya tarikan gravitasi pada partikel materi tersebut. Medan ini memainkan peranan perantara dalam pemikiran kita mengenai gaya-gaya interaksi di antara partikel-partikel materi.
Mungkin kita jadi berpikir, bahwa bila setiap partikel materi yang berada dalam medan gravitasi telah berusaha untuk mengerahkan daya tarikan gravitasi pada setiap partikel materi lain, maka terdapat “sesuatu” yang menjadi penghubung sehingga terjadi interaksi antar partikel-partikel materi.
Pengenalan konsep kuantum dan penelitian mutakhir dari partikel elementer memungkinkan pemahaman yang jauh lebih baik daripada sebelumnya mengenai mekanisme gravitasi. Hasilnya adalah, diduga ada “partikel interaktif” yang dikenal dengan nama graviton sebagai pembawa gaya gravitasi yang memungkinkan partikel-partikel materi berinteraksi. Partikel interaktif tersebut tidak memiliki massa, bersifat maya-karena belum ada kenyataan eksperimental yang menemukan partikel interaktif tersebut. Karena graviton tidak bermassa, maka sebagai akibatnya ia dapat dipertukarkan pada jarak yang jauh sekali yang meliputi seluruh volume ruang jagat raya. Sebagai ilustrasi, berapa “keliling” jagat raya ini bila dikatakan bahwa di dalamnya terdapat sekitar 100 milyar galaksi yang tiap-tiap galaksi berisi sekitar 100 milyar bintang! Jumlah ini adalah suatu pendekatan saja, boleh jadi jumlah yang sebenarnya melebihi aproksimasi di atas. Sementara itu, dari pengamatan yang dilakukan terdeteksi bahwa antar galaksi saling bergerak menjauhi satu sama lain mirip dengan balon karet yang kita tiup, dengan kecepatan yang semakin bertambah besar dengan bertambah jauhnya jarak antar galaksi. Menurut prediksi, bahkan hal ini akan tetap berlangsung sekitar 5 atau 10 milyar tahun lagi.
Meskipun gaya gravitasi mempunyai kekuatan yang lemah bila dibandingkan dengan gaya-gaya lain yang terdapat di jagat raya ini, ia dapat mempunyai kekuatan yang sangat besar, bila kita meninjau suatu misal, sebuah objek langit yang mengalami pemampatan materi dan telah kehilangan energi termonuklirnya yang ia pergunakan untuk melangsungkan hidup, akan mengalami pengerutan yang sangat hebat. Bintang yang ambruk tersebut akan mengerut mencapai ukuran yang sangat kecil karena efek tarikan gravitasinya yang sangat kuat. Objek semacam inilah yang sering kita kenal sebagai lubang hitam, suatu objek yang menjadi perhatian utama saat ini dikarenakan ia memiliki sifat-sifat yang diramalkan dari teori kuantum dan teori relativitas umum, yang aneh, menawan dan menakjubkan. Mungkin sulit bagi kita untuk membayangkan terdapatnya objek yang demikian sangat rapat, bila suatu misal, dalam sebuah kelereng yang berdiameter dua cm mengandung sejumlah massa 80 milyar ton! Bintang yang mempunyai massa sekian itu akan terus-menerus mengerut dalam ukuran yang semakin kecil dan semakin rapat. Tarikan gravitasinya bahkan mampu menarik cahaya yang lewat mendekatinya.
Struktur atom dan struktur inti lubang hitam tidak lagi seperti yang telah kita kenal dalam teori atom dan teori nuklir, karena tarikan gravitasi telah menarik awan elektron di sekeliling inti dan menembusnya! Sifat-sifat apakah yang terjadi dan hukum bagaimanakah yang mampu menjelaskan adanya fenomena seperti itu, hingga saat ini masih dalam perumusan para fisikawan dunia. Dan akan selalu menjadi bahan kajian yang menarik karena ia merupakan aspek penting dalam pemahaman kita terhadap alam semesta, kelahiran serta proses evolusinya secara keseluruhan dalam suatu pemahaman utuh yang menunjukkan kebesaran Allah Yang Maha Rahman dalam menciptakan jagat raya ini.
Sumber : google dan berbagai literatur
Name Tag dan Raport untuk Sekolah Kaderisasi
untuk mahasiswa baru 2011, contoh name tag bisa di download disini name tag SK. Tapi tahunnya dirubah jadi 2011.
Dan untuk buku raport, bisa didownload disini RAPORT SEKOLAH KADERISASI





